OKSIDASI. Apakah itu? Ada begitu banyak obrolan tentang oxidation, dan muncul hal seperti radikal bebas dan antioxidants. Semuanya terkait dengan kesehatan tubuh. Oxidants, buruk. Mau sehat, minum antioxidants, seperti Vitamin C. Kebanyakan dari kita 'menelan' begitu saja, tapi dalam hati kecil masih bertanya-tanya. Apaan sih?
Merasa begitu? Kalau tidak mengerti, pada akhirnya hanya menelan begitu saja.
Jadi, mari kita pelajari bersama.
Ada dua proses di dalam hal ini. Pertama, Oksidasi adalah proses di mana atom-atom dalam suatu senyawa kehilangan elektronnya. Kedua, Reduksi adalah proses di mana atom-atom dalam suatu senyawa mendapat tambahan elektron. Perlu contoh ya.... Ambil satu unsur penting: Carbon.
Jika Carbon mengalami oksidasi, maka Carbon menjadi CO2 alias karbondioksida.
Jika Carbon mengalami reduksi, maka Carbon menjadi CH4 alias methana.
Kalau sudah mengalami oksidasi, hilang potensi energi. Semburkan karbondioksida pada api, maka api itu akan padam. Sebaliknya jika mengalami reduksi, maka potensi bertambah. Methana itu mudah terbakar lho.
Nah, untuk terjadinya oksidasi, ada yang bikin gara-gara dan disebut agen oksidasi. Yang paling terkenal di dunia adalah O2 alias oksigen (dari sana istilah oksidasi muncul, tapi sekarang kita tahu bukan hanya melibatkan oksigen saja). Zat yang bikin terjadi oksidasi disebut oksidatif, yang dilakukannya adalah 'mengambil' elektron dari molekul yang dioksidasinya.
Tebak apa yang terjadi pada molekul yang mengalami oksidasi. Ya, mereka menjadi molekul yang tidak seimbang elektronnya atau tepatnya ada elektron yang tidak berpasangan. Seperti pasangan yang diselingkuhi dan ditinggal pergi. Stress kan? Lantas yang tiba-tiba sendiri ini berkelana dan mencari pasangan orang lain..... Ini disebut molekul radikal bebas. Free radicals.
Oh, dalam kimia biologi tidak seemosional itu sih. Sebenarnya, ada juga radikal bebas yang berguna dalam tubuh, seperti nitrit oksida dalam pengaturan tekanan darah. Jangan buru-buru beranggapan bahwa semua radikal harus dimusnahkan dari tubuh. Ada gunanya lho! Tapi, radikal bebas yang nggak jelas letak dan fungsinya, itu memang membuat masalah.
Kalau dalam tubuh ada terlalu banyak radikan bebas yang tidak dapat dikendalikan oleh tubuh, maka dikatakan bahwa tubuh sedang berada dalam keadaan oxidative stress. Stress oksidatif! Pastinya bukan hal yang baik. Radikal bebas 'mengejar' lemak, protein, juga DNA -- dan menimbulkan banyak penyakit, bebarapa bisa sangat serius.
Sekarang, mari kita kembali ke antioxidants. Ketahuilah bahwa tubuh kita mampu memproduksi antioksidan yang keren dan kuat dan bagus sekali, antara lain dua yang diberi nama glutathione dan co-enzyme-Q10. Zat antioksidan ini bekerja menetralisir radikal bebas, kalau jumlahnya masih bisa ditanggulangi. Tapi kalau ada situasi yang buruk berkepanjangan, bisa terjadi antioksidan dari tubuh pun kewalahan.... jadilah stress oksidatif. Glutathione ini kan, menurun seiring bertambahnya umur jadi tua, turun 1% per tahun....
Kalau sudah begitu, kita membutuhkan tambahan antioksidan dari luar. Vitamin C, misalnya, sudah lama dikenal sebagai antioksidan yang bagus banget. Demikian juga dengan Vitamin A, E, dan Selenium. ok?
Jadi demikianlah dietary supplement dibuat, untuk memberikan tambahan "pahlawan perang" untuk melawan free radicals. Ada bahan yang larut dalam air, seperti vitamin C dan vitamin B. Ada yang larut dalam minyak, seperti vitamin A dan D. Nah, kalau larut di air, tubuh bisa keluarkan kelebihan vitamin melalui buang air kecil. Tapi kalau larut di minyak dan diserap tubuh, bisa bikin orang keracunan. Ada lho, yang keracunan vitamin A ! Namanya racun, ya nggak ada yang bagus.
Yang lebih baik adalah kalau tubuh bisa membuat antioksidannya sendiri, baik glutathione atau Coenzymne Q-10 atau lainnya. Istilahnya, endogeneous, menghasilkan sendiri. Kalau ditambah dari luar, istilahnya exogeneous. Hah, banyak istilah ya?
Asal tahu saja, urusan antioxidants ini sebenarnya tidak sederhana. Kita tidak bisa comot sembarang vitamin atau 'antioxidants' dan mengkonsumsinya dalam jumlah besar dengan bebas asal banyak. Efek kebanyakan antioxidants adalah menjadi anti-nutrients karena mengikat mineral seperti zat besi dan zinc yang dibutuhkan di dalam usus, akhirnya sama sekali tidak diserap oleh tubuh.
Supplemen yang dibuat 'asal ada asal banyak' belum tentu bermanfaat bagi tubuh. Keseimbangan komposisi dan persenyawaan sangat penting. Bentuk ikatan, terkait dengan bioavailability -- yaitu rasio berapa yang bisa diserap tubuh dalam keadaan utuh, itu juga penting. Jangan sangka mudah membuat multivitamin dan mineral. Kita butuh antioxidant, namun tidak sembarang.
Usana Health Science bertahun-tahun melakukan riset untuk membuat supplemen yang terbaik. Kita bisa mengkonsumsi multivitamin dan multi-mineral dengan keterkaitan yang utuh dan efektif.... Apakah kita mau memilih yang lain?
Choose at your own risk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar